Bayi menangis

Gulalives.com, JAKARTA – Jangan beranggapan hanya orang dewasa yang bisa kena migrain. Bayi juga bisa lho, Bunda. Bayi yang rewel dan menangis tanpa diketahui penyebabnya dapat menjadi pertanda awal migrain.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan dengan riwayat migrain 2,6 kali lebih mungkin melahirkan bayi yang rewel dibandingkan mereka yang tidak pernah mengalaminya.

Rewel pada bayi ini disebut dengan istilah kolik, yaitu suatu kondisi di mana seorang bayi sering menangis atau menunjukkan gejala kesakitan untuk waktu yang lama tanpa alasan jelas. Kondisi ini biasanya muncul pada bulan pertama dan sering menghilang tiba-tiba sebelum bayi berusia 3 – 4 bulan, tapi bisa juga bertahan sampai usia 12 bulan.

“Temuan kami menunjukkan bahwa gen migrain atau faktor genetik yang mempengaruhi seseorang untuk terserang migrain mungkin muncul sejak kehidupan awal (pada bayi) berupa rewel atau kolik,” kata dr Amy Gelfand, peneliti sekaligus ahli saraf anak di University of California, San Francisco School of Medicine.

Dalam penelitian ini, Gelfand dan koleganya meneliti 154 ibu selama mengunjungi dokter saat anaknya berusia 2 bulan. Para peserta ditanya apakah pernah didiagnosis mengalami migrain oleh dokter dan diminta mengisi kuesioner yang dirancang untuk mendeteksi riwayat sakit kepala sebelah tersebut. Tak hanya ibu, pihak ayah juga disurvei jika ada.

Sebanyak 18% ibu mengaku mengalami migrain dan 14 persen dari seluruh peserta penelitian memiliki bayi yang sering rewel. Sekitar 29% ibu yang mengalami sakit kepala sebelah memiliki bayi kolik. Sedangkan pada ibu yang tidak terserang migrain, hanya 11 persen yang memiliki bayi rewel.

Jika kesimpulan ini terbukti benar, peneliti masih tidak akan dapat membedakan apakah bayi yang menangis kencang disebabkan oleh sakit kepala atau ketidaknyamanan lainnya.

Sensitif cahaya dan kebisingan

Sama seperti halnya orang dewasa yang menjadi lebih sensitif terhadap cahaya dan kebisingan selama terserang migrain, bayi yang rewel mungkin sangat sensitif terhadap rangsangan yang sama. “Saya menduga bayi mengalami hal serupa. Bayi yang tidak rewel hanya menganggap cahaya dan suara sebagai stimulus biasa, sedangkan bayi yang rewel menganggap suara dan cahaya yang masuk terlalu banyak,” kata Gelfand.

Hasil riset yang dipersentasikan dalam pertemuan tahunan American Academy of Neurology ini diharapkan dapat membantu para peneliti mencari cara efektif untuk mengobati kolik.

National Institutes of Health di Amerika Serikat melaporkan sekitar 1 dari 5 bayi terserang kolik. Seorang bayi dianggap mengalami kolik jika menangis minimal 3 hari dalam seminggu selama minimal 3 jam sehari dan bukan disebabkan masalah medis. Penyebab kolik sampai saat ini tidak diketahui. Beberapa ahli menduganya disebabkan oleh gas.

Dua penelitian sebelumnya menemukan bahwa anak-anak yang mengidap migrain lebih banyak mengalami kolik saat bayi dibanding anak-anak yang tidak mengalaminya.

Peneliti mengingatkan, temuan ini hanya menunjukkan sebuah hubungan dan bukan pengaruh sebab-akibat. Bayi yang rewel perlu dipantau terus untuk melihat apakah lebih rentan mengalami migrain di kemudian hari, demikian dilaporkan Live Science. (VW)

 

LEAVE A REPLY