Gulalives.com, JAKARTA – Apa yang melintas di pikiran saat membayangkan dompet para ekspatriat atau pekerja asing di Indonesia? Tebalkah uang mereka? Jika tebal, mampukah membeli apartemen mewah seharga Rp 10 miliar?

Tak lama lagi,ekspatriat bisa memiiliki apartemen di Indonesia. Selain bekerja di Indonesia, mereka juga dipersyaratkan telah tinggal di Tanah Air. Satu lagi,mereka harus siap dengan dana cukup agar bisa memiliki properti.

Pemerintah membuka kran kepemilikan properti Indonesia oleh warga negara asing (WNA). Kebijakan tersebut tertuang dalam salah satu klausul Paket Ekonomi Jilid I, sektor properti. Di sektor ini, pemerintah membolehkan WNA memiliki properti Indonesia, dengan jenis dan harga tertentu. Jenis properti yang bisa mereka miliki adalah apartemen mewah, dengan harga di atas Rp 10 miliar.

Dahyat bukan. Para ekspatriat hanya bisa memiliki apartemen mewah di atas Rp 10 miliar. Mampukah mereka ? Direktur PT Jababeka, Tbk Suteja Sidarta Darmono meragukan hal itu.

Di Indonesia, kata Suteja, terdapat 70 ribu ekspatriat. Dari jumlah tersebut, sebanyak 10 ribu bekerja di kawasan industri Cikarang, Bekasi, Jawa Barat. Dengan kata lain, sepertujuh ekspatriat di Indonesia, ada di Cikarang.
Dari 10 ribu ekspatriat itu, kata Suteja, tidak semua mampu membeli properti mewah. Apalagi seharga di atas Rp 10 miliar. “Itu terlalu mahal,” ujar Suteja.

Bersama timnya, Suteja telah melakukan survei tentang daya beli ekspatriat di Cikarang. Hasilnya mengejutkan.
“Ternyata, tidak banyak dari mereka yang mampu membeli properti dengan harga Rp 10 miliar. Harga itu juga terlalu berat bagi orang asing. Kami perkirakan, mereka hanya mampu di harga Rp 5 miliar,” papar Suteja. Bandrol harga di atas Rp 10 miliar, lanjut dia, juga lebih mahal dibandingkan dengan negara tetangga. Di sana, harga properti untuk warga asing dipatok hanya Rp 5 milar per unit.

Kalangan konsultan properti juga berpandangan senada. Bahkan, pembukaan kran kepemilikan properti bagi warga negara asing tidak akan berdampak besar terhadap pertumbuhan industri properti Indonesia.

“Tidak berpengaruh signifikan. Pasalnya hunian mewah di atas Rp10 miliar ini unitnya terbatas. Hanya 1% dari seluruh total properti di Indonesia,” kata Associate Director Colliers International Indonesia Ferry Salanto.
Menurut Ferry, batasan harga Rp10 miliar ke atas, kurang menarik bagi pengembang. Apalagi, masih ada pajak yang dibebankan terhadap hunian mewah, dengan nilai cukup besar.

“Wacana ini masih belum jelas. Kalaupun diterapkan, dampaknya cuma 1%. Apartemen di atas Rp10 miliar, unitnya terbatas dan hanya di Jakarta,” kata dia.

Kalau Rp 10 miliar terlalu mahal buat ekspatriat, lalu siapa yang beli ? (AA)

1 COMMENT

LEAVE A REPLY