Gulalives.com, JAKARTA – Panitia Penyelenggara Haji Indonesia (PPIH) membentuk tiga tim guna menelusuri jemaah haji yang dilaporkan belum kembali ke pemondokan pascatragedi Mina, Kamis (24/9).

Kepala Daker Makkah Arsyad Hidayat mengatakan, ketiga tim itu adalah tim pencari data, tim penelusuran  rumah sakit, dan tim identifikasi. Tim pencari data akan menghimpun data jemaah haji Indonesia yang belum kembali ke kloternya sejak peristiwa Mina.

“Hari ini, secara intensif kami keliling ke beberapa kloter dan Alhamdulillah mendapatkan laporan-laporan baru terkait dengan beberapa kloter yang ada jemaahnya belum kembali,” ujar Arsyad di Makkah, seperti dikutip dari laman resmi Kementerian Agama, Rabu (30/9).

Selanjutnya tim penelusuran rumah sakit akan menelusuri keberadaan jemaah ke beberapa rumah sakit di Arab Saudi. Rumah sakit yang dimaksud, diantaranya RS Mina Al Wadi, RS Mina Al Jisr, RS Zahir,  RS Syisyah, dan RS Militer di Awali.

“Tim juga akan menelusuri kemungkinan keberadaan jamaah haji Indonesia di rumah sakit di luar kota Makkah, seperti RS Garda Nasional di Jeddah dan RS Hada di Thaif,” kata Arsyad.

Sementar itu, tim ketiga bertugas mengidentifikasi jenazah di pemulasaraan Majma’ Ath-Thawari Bil Muaishim.

Menyinggung soal pola identifikasi, Arsyad mengatakan, tim PPIH menggunakan dua pola. Yakni,  mengidentifikasi jenazah melalui file-file yang berisi data pelengkap jamaah,berupa gelang, tas, syal, DAPIH (Dokumen Administrasi Perjalanan Ibadah Haji, kartu petunjuk bus, kartu petunjuk hotel, dan lainnya.

“Jika  itu ditemukan, maka akan mempermudah identifikasi jenazah korban. Kalau tidak ditemukan, identifikasi dilakukan dengan mengkonfirmasi jenazah melalui ketua kloter, ketua rombongan, ketua regu dan keluarga jenazah di kloter tersebut,” papar  Arsyad.

Pola kedua adalah bekerja sama dengan divisi  Disaster Victim Identification (DVI) untuk mendapatkan data-data sidik jari jamaah haji Indonesia. Tim melakukan ini karena terjadinya  perubahan fisik, khususnya wajah. Arsyad mengatakan,  setelah lima hari sejak tragedi Mina terjadi pada Kamis (24/9), fisik jenazah sudah mulai sulit diidentifikasi.

“Kami berharap penggunaan  sidik jari  akan mempermudah dan mempercepat proses identifikasi,” jelas Arsyad.

Dia menambahkan, pihak Mu’aishim telah melakukan penguburan jenazah korban meninggal sejak Senin (28/09). Penguburan dilakukan terhadap jenazah yang sudah diidentifikasi. (AA/SY)

 

LEAVE A REPLY