Gulalives.com, JAKARTA – Seringkali perbincangan tentang pemanasan global dicap membosankan, terlalu serius, dan komentar – komentar nggak menarik lainnya. Apakahom dan Ladies juga menganggapnya begitu? Semoga tidak.

Mom, Ladies, pemanasan global bukan persoalan rumit. Malah sebaliknya, ini masalah mudah. Perhatikan saja namanya: pemanasan global. Maksudnya, pemanasan yang bersifat global. Bukan cuma di satu atau dua tempat, bukan pula di satu atau dua negara. Pemanasannya terjadi di banyak tempat dan di banyak negara.

Terus Mom, Ladies, kenapa bisa terjadi pemanasan global? Gulalives pernah menyinggung hal ini beberapa waktu lalu. Intinya, pemanasan global terjadi karena efek rumah kaca. Efek ini menjadikan panas matahari, yang seharusnya menguap setelah terserap bumi, justru terpantul kembali ke bumi. Pantulan ini menyerupai pantulan panas di dalam rumah kaca. Panas yang terpantul kembali ke bumi itu sebesar 30 watt per meter persegi. Pantulan ini lah yang membuat suhu bumi, atmosfer, dan lingkungan memanas.

Rumah kaca yang menyebabkan pantulan panas itu terbangun oleh gas rumah kaca (GRK) yang menyelimuti bumi. GRK terbentuk oleh beberapa partikel gas. Yakni, CO2 (karbon dioksida), CH4 (methana),N2O (nitroigen oksida), CFC (chloro fluoro karbon), HFC (hidro fluoro karbon), PFC (perfluoro karbon), serta SF6 (sulphur heksafluoro).

Ternyata Mom, Ladies, efek panas dari pemanasan global bisa dicegah dengan cara mudah. Bahkan, cara ini sangat dekat dengan keseharian Mom dan Ladies. Apa itu? Taman. Di rumah ada taman kan Mom, Ladies? Syukur – syukur ada dua: di depan dan di belakang. Lebih bagus lagi, kalau tamannya mengelilingi rumah.

Di dunia properti, taman kerap disebut ruang terbuka hijau (RTH). Keberadaan RTH sangat penting, karena termasuk salah satu unsur penunjang green building. Nah Mom, green building sangat ampuh melawan dan mencegah pemanasan global.

Menurut Ketua Green Building Council Indonesia (GBCI) Naning Adiwoso, idealnya luasan RTH atau taman adalah 30% dari luas total lahan. Kalau lahan di rumah mom, 200 meter persegi, maka 30%-nya atau 60 meter persegi sebaiknya dialokasikan untuk taman. “Semua bangunan idealnya memiliki RTH,” ujar Naning. Artinya, rumah juga harus mempunyai taman.

Ada dua fungsi penting taman. Yakni, tempat penyerapan air dan penjaga kualitas udara. “Akar dari tanaman taman akan menyerap air. Dengan demikian, akan ada stok air yang cukup. Stok ini sangat berguna saat masuk musim kemarau,” jelas Naning.

Taman juga mampu menjaga kualitas udara. Caranya, dengan mengubah karbon dioksida (CO2) menjadi oksigen (O). Suplai oksigen di rumah yang memiliki taman jauh lebih besar dibandingkan rumah, yang seluruh lahannya tertutup bangunan fisik.

Jangan lupa Mom, di rumah bertaman, pasokan karbondioksidanya juga lebih rendah ketimbang rumah tanpa taman. Dengan karbon dioksida yang rendah, rumah Mom dan Ladies berperan besar mencegah pemanasan global. Itu karena mom dan ladies tidak menyumbang karbon dioksida untuk membentuk gas rumah kaca.

Bagaimana Mom,Ladies, mudah kan mencegah pemanasan global? Sangat Mudah. (AA/SY)

LEAVE A REPLY