roemah martha tilaar
Foto: roemahmarthatilaar.org

Gulalives.com, GOMBONG – Cantik. Itulah kesan yang akan kita dapatkan ketika memasuki pelataran halaman Roemah Martha Tilaar (RMT). Bergaya arsitektur Eropa, tepatnya bernuansa rumah Belanda tempo dulu. Pertama memasuk ruang tamu di mana terdapat altar sembahyang untuk para leluhur. Di ruangan ini pula, suasana Jawa tersirat saat melihat beberapa foto keluarga Liem yang berpakaian Jawa dan perabotan-perabotan klasik.

Martha Tilaar memang keturunan Tionghoa, yaitu Liem Kiem Seng/Song yang datang dari Desa Jinli, Kota Haichang, Xianmen, Tiongkok. Ia mencapai Gombong melalui jalur darat dari Batavia.

RMT berlokasi di Jalan Sempor Lama Nomor 28 Gombong, Kebumen, Jawa Tengah dengan luas 1200 meter persegi dan rumahnya dibangun pada tahun 1920. Pada dinding-dinding di teras depan aneka gambar bercerita tentang wajah RMT tempo dulu, suasana Kota Gombong tempo dulu, wisata-wisata di Kebumen, hasil kerajinan di Kebumen dan lain-lain. Di lorong Ruang Tengah, dipajang silsilah sejak buyut dari Tiongkok tinggal di Gombong dan foto-foto lama keluarga Liem Siaw Lan. Lantai di rumah ini pun masih asli, yang langsung didatangkan dari Tiongkok.

RMT diapit dua paviliun di kanan-kirinya. Terdapat dua halaman di bagian depan dan belakang yang ditata sebegitu cantiknya, di antara pohon-pohon tua dengan taman bunga yang menawan. Rumah utama terdiri dari teras depan, ruang sembahyang, ruang tamu, satu kamar utama, tiga kamar anak dan teras belakang. Sekeliling rumah, ditanami aneka tanaman obat sebagai bukti kecintaan Martha Tilaar terhadap jamu asli Indonesia.

Kita akan menemui kamar Mak Oco atau dikenal sebagai Pranoto Liem, yang banyak mengajarkan Martha Tilaar tentang khasiat jamu. Mak Oco inilah yang membantu Martha Tilaar dengan ramuan-ramuan tradisionalnya. Saat itu Martha Tilaar belum dikaruniai anak setelah belasan tahun pernikahannya. Dia rutin meminum ramuan Mak Oco, hingga Martha Tilaar dikaruniai putri pertamanya yang diberi nama Wulan Tilaar. Ramuan Mak Oco kemudian diabadikan menjadi Kaplet Wulandari yang diproduksi untuk membantu para perempuan yang kesulitan memperoleh keturunan. Selama hidupnya yang amat dekat dengan tanaman dan obat tradisional, Mak Oco dikaruniai umur panjang hingga wafat di usianya yang menginjak 100 tahun lebih.

Jika berminat mengunjungi RMT, disarankan juga untuk datang di malam hari. Saat hari telah gelap, dalam rumah menyalam lampu yang pencahayaannya temaram, membuat bangunan tampak romantis, syahdu, dan menawan. Selain dibuka untuk umum dan difungsikan sebagai salah satu destinasi wisata, RMT dijadikan tempat sejumlah kegiatan dan aktivitas, seperti lokakarya batik, pertunjukan kesenian, rumah sehat dan bakti sosial, serta festival hari bumi.

Menurut Wulan Tilaar selaku Ketua Yayasan Warisan Budaya Gombong, RMT sebagai rumah budaya bukan sekadar museum tapi akan dijadikan pusat studi berbagai komunitas masyarakat sekitar Gombong dan Kebumen, kemudian pusat ramah lingkungan, pusat jamu dan kecantikan, serta pemberdayaan perempuan. Pada akhirnya, mampu menjadi ikon Gombong hingga membuat kota kecil ini mengglobal. (WI)

LEAVE A REPLY