batik kebumen
Foto: batikcity.com

Batik Kebumen sudah berumur ratusan tahun. Ilmu pembuatannya diturunkan turun temurun dari generasi ke generasi. Sekarang ini batik Kebumen terbagi menjadi dua jenis, yaitu batik cap dan batik tulis.

Sejarah Batik Kebumen

Setidaknya ada dua versi sejarah batik Kebumen, keduanya menyebutkan batik Kebumen mulai ada sejak abad ke 19. Batik mulanya eksklusif hanya untuk kalangan keraton. Kemudian Pangeran Bumidirdjo membuka wilayah Kebumen dan mulai memperkenalkan batik ke masyarakat.

Versi kedua menyebutkan batik dibawa ke Kebumen oleh para pendakwah Islam dari Yogyakarta, salah satunya adalah Penghulu Nusjaf. Para pendakwah itu menetap dan mendirikan masjid. Mereka mewariskan keterampilan membatik pada masyarakat di timur kali Lukolo.

Masyarakat Kebumen menggunakan istilah teng-abang atau blambangan untuk menyebut proses membatik. Dimana proses terakhir dikirim dan dikerjakan di Banyumas dan Solo.

Awal abad ke 20 digunakan cap dari kayu dan pewarna dari kunyit untuk membuat pola batik. Pewarna dibuat dari bahan alami hingga digunakan pewarna sintesis pada tahun 1920. Sedangkan teknik batik cap dari tembaga mulai diperkenalkan di Kebumen oleh Purnomo dari Yogyakarta.

Masa Surut dan Keemasan

Tahun 1960 sampai 1980-an adalah masa keemasan batik Kebumen, dengan batik tulis sebagai komoditas unggulan. Produsen batik bisa dijumpai hampir di seluruh kabupaten Kebumen. Karena suatu sebab, pada 2004 batik Kebumen mengalami masa surut. Berbagai upaya dilakukan sehingga saat ini perlahan mulai bangkit lagi. Pesanan pun berdatangan dari pasar domestik dan internasional.

Keunggulan batik Kebumen adalah pengerjaan secara tradisional tetap dipertahankan. Untuk mengerjakan sebuah kain batik diperlukan waktu satu sampai dua bulan. Sehelai kain batik Kebumen dijual dengan harga ratusan ribu hingga jutaan rupiah. (WI)

LEAVE A REPLY