Tragedi Mina

Gulalives.com, JAKARTA -Seorang jamaah asal Indonesia menjadi korban ‎tragedi di Jalan 204, Mina, Kamis siang (24/9).

Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi menyiapkan nomor hotline bagi keluarga jamaah asal Indonesia yang ingin mendapatkan informasi seputar kejadian itu.  “Silakan menghubungi hotline +966543603154,” kata Kepala Daerah Kerja (Daker) Makkah PPIH Arab Saudi Arsyad Hidayat.

Arsyad menerangkan ‎PPIH Arab Saudi berusaha menguasai situasi agar tidak muncul korban lebih banyak dari Indonesia. PPIH Arab Saudi juga terus berkoordinasi dengan Dipa Madani (BNPB Arab Saudi) untuk mendapatkan informasi di wilayah-wilayah yang dapat dijangkau.

PPIH juga sudah menurunkan tim ke rumah sakit dan lokasi kejadian. Peristiwa terjadi di Jalan 204 sekitar pukul 07.30 waktu Arab Saudi. Kala itu, jamaah hendak melontar jumrah.

Dalam perjalanan, ada rombongan jamaah yang terhenti sehingga membuat jamaah yang berada di belakang mendorong ke depan. ‎Akibatnya, banyak perempuan dan orang tua yang menjadi korban.

Hingga siang ini, jumlah korban mencapai 310 orang meninggal dan 450 mengalami luka-luka. “Semua korban dibawa ke RS Mina Al Jisr,” ujar Arsyad.

Bukan Kelebihan Kapasitas

Insiden yang terjadi di Mina diduga bukan karena over kapasitas. Pasalnya tahun lalu jumlah jamaah yang menunaikan ibadah haji sama dengan tahun ini.

“Bahkan, empat tahun lalu, jumlah jamaah lebih besar dengan kuota penuh setiap negara. Namun, kejadian seperti ini tidak terjadi,” ucap Wakil Ketua Tim Pengawas Haji DPR RI, Saleh Partaonan Daulay seperti dilaporkan Republika Online.

Sekarang ini, kuota jamaah haji setiap negara dikurangi 20 persen. “Secara logis, ini bukan karena over kapasitas, namun ada faktor lain yang masih kita gali informasinya,” kata pria yang juga menjabat sebagai ketua Komisi VIII DPR RI ini.

Saleh menduga, jamaah haji berdesak-desakan untuk segera melakukan pelontaran jumroh Aqabah untuk menghindari panas matahari pada siang dan sore hari. Karena jumlahnya yang begitu banyak, terjadi saling berdesakan antara satu dengan yang lain. Hal ini mungkin yang mengakibatkan para jamaah panik dan saling dorong.

Pada waktu wukuf kemarin, kata Saleh, cuaca di sana memang sangat panas, sekitar 50-55 derajat celcius. Tentu cuaca ekstrem seperti ini diupayakan untuk dihindari. “Mungkin, banyak jamaah yang berusaha melontar jumroh pada pagi hari,” ucapnya. (VW)

 

LEAVE A REPLY