batik kebumen
Foto: batikcity.com

Gulalives.com, KEBUMEN – Pola dan warna batik di berbagai daerah menyimpan nilai filosofis, karena terbentuk dari latar dan pengaruh berbagai unsur. Setiap motif batik memiliki makna tersendiri. Misalnya motif Sidaluhur, yang bermakna keluhuran.

Dalam hidup memang yang dicari adalah keluhuran, baik materi dan non materi. Keluhuran materi harus didapatkan dengan cara dan jalan yang benar, tidak merugikan orang lain, dan tidak membuat marah Yang Kuasa. Keluhuran non materi adalah kebersihan batin dan tingkah laku. Meliputi kesantunan, kejujuran, keluhuran budi, dan hubungan baik dengan manusia dan Yang Kuasa.

Maka itulah batik bisa menjadi simbol budaya, adat istiadat, dan spiritual. Motif batik pun bisa bertahan sampai kini keasliannya. Namun hal tersebut tidak ditemui pada batik Kebumen.

Batik Kebumen murni berkembang sebagai seni batik yang bernilai artistik tanpa makna filosofi moral dan harapan-harapan. Pola batik Kebumen berorientasi pada alam tanpa menyimpan simbolisme pada bentuk-bentuk polanya. Orang-orang Kebumen adalah masyarakat yang bersahaja dan sangat menghormati alam, yang tercermin pada motif batik Kebumen.

Ada ratusan motif yang dimiliki batik Kebumen yang sebagian besarnya bercorak flora, fauna, dan bentuk geometri. Ada tiga kelompok motif yaitu merakan (burung merak), pelataran (berbentuk seperti dedaunan yang lebar), dan sekar jagad (jagatan). Diperkaya dengan motif kombinasi yang disebut kawung, yang terbagi menjadi kawung uwer dan kawung jenggot.

Warna batik Kebumen lebih kaya dibanding batik dari daerah lain. Pada selembar batik Kebumen bisa dijumpai empat kombinasi warna. Ungu, coklat, merah, biru, hijau, kuning, dan hitam adalah warna-warna yang paling sering dipakai. Batik tulis Kebumen yang didominasi warna merah disebut bang-bangan, dan biron jika didominasi warna biru.

Sentra Batik Kebumen terletak di Desa Watubarut Kecamatan Kebumen, Desa Seliling Kecamatan Alian, Desa Jemur Kecamatan Pejagoan, Kampung Tanuraksan Desa Gemesekti, Batil, Surotrunan, Kambangsari, Pesawahan dan Ganggengan. Di Desa Watubarut yang menjadi cikal bakal usaha batik tulis, aktivitas batik membatik kini benar-benar punah, karena tak ada generasi penerus. (WI)

LEAVE A REPLY