Gulalives.com, JAKARTA – Bagaimana rasanya kalau kerja keras yang seharusnya dinikmati segera, ternyata harus tertunda selama tiga tahun? Artis film Astri Nurdin sempat mengalami hal tersebut ketika master film Bait Surau yang dibintanginya lenyap dalam sebuah kebakaran hebat. Waduh, bagaimana ceritanya?

Astri bercerita, film yang digarap pada saat bulan Ramadan tahun 2012 silam ini semestinya sudah dapat dinikmati penonton pada akhir 2012. Namun Astri sadar bahwa manusia hanya bisa berencana, sementara keputusan akhir ada di tangan Tuhan, sang pembuat keputusan.

“Tubuh saya langsung lemas ketika mendengar kabar bahwa kantor PH nya terbakar, master filmnya tidak bisa diselamatkan. Terbayang deh bagaimana rasanya perjuangan ketika syuting film ini,” kisah Astri.

Dalam kondisi berpuasa, ketika itu Astri begitu antusias menyelesaikan film religinya tersebut. Lokasi syuting di pantai Malimping, Banten yang panas tak membuat dia ingin meninggalkan ibadah berpuasa. Kini, setelah tiga tahun menanti dengan penuh rasa harap-harap cemas, akhirnya Astri dapat tersenyum lagi. Pasalnya dengan upaya keras dari kru, scene demi scene dalam film ini dapat disatukan kembali. Bahkan berita gembiranya film tersebut bakal segera nongol di bioskop-bioskop di Indonesia.

“Alhamdulillah akhirnya tayang juga. Terus terang saking sudah lamanya, saya sampai lupa kalau pernah main di film ini. Hahaha. Saya bersyukur dengan pertolongan Allah Swt file-file yang tercecer dapat dikumpulkan dalam waktu tiga tahun,” terang Astri, lagi.

Film Bait Surau mengangkat tema kisah percintaan yang mengharukan. Diceritakan dirinya berhubugan kasih dengan Rio Dewanto, pemuda kota yang suka hura-hura. Memerankan tokoh gadis tuna rungu, Astri mengatakan bahwa selain mengangkat kisah percintaan yang mengharu biru antara dirinya dan suami Atikah Hasiholan, film ini tetap sarat dengan unsur edukasi keislamannya.

“Ceritanya menarik deh. Saksikan saja filmnya tanggal 22 Oktober di seluruh bioskop Indonesia,” promosi wanita berdarah Minang, ini.(NES/SY)

LEAVE A REPLY