Menengok Proses Pembuatan Wayang Kulit di Wonogiri
Menengok Proses Pembuatan Wayang Kulit di Wonogiri

Gulalives.com, WONOGIRI – Wayang kulit adalah salah satu khazanah kekayaan seni budaya Indonesia, terutama masyarakat Islam di pulau Jawa. Selain nilai seni dalam pementasan wayang kulit, keunikan kisah dalam setiap lakon dalam wayang kulit, ataupun bentuk fisik dari wayang kulit tersebut menjadi seni budaya yang khas dan merupakan daya tarik tersendiri dari kesenian wayang kulit. Kali ini, Gulalives berkunjung ke salah satu sentra pembuatan wayang kulit di Dusun Bulu, Desa Punduksari, Kecamatan Manyaran, Wonogiri.

Anggono sedangmelakukan proses pemahatan wayang kulit. (Foto: Gulalives/Dwi Purnawan)
Anggono sedangmelakukan proses pemahatan wayang kulit. (Foto: Gulalives/Dwi Purnawan)

Sentra kerajinan wayang kulit milik Anggono ini memang dikenal sebagai sentra kerajinan wayang kulit yang sudah memasarkan produknya di berbagai daerah di tanah air. Menurut Anggono, sang pemilik sentra kerajinan, proses pembuatan wayang kulit ini memerlukan waktu selama sekitar empat hingga enam hari. “Tergantung dari tingkat kesulitannya mas, kalau tokoh semar ya paling empat hari, namun yang paling sulit adalah membuat kayon atau gunungan,” tandasnya kepada Gulalives, Ahad (20/9/2015).

Anggono sedang membuat pegangan wayang. (Foto: Gulalives/Dwi Purnawan)
Anggono sedang membuat pegangan wayang. (Foto: Gulalives/Dwi Purnawan)

Untuk pembuatan, Anggono menggunakan kulit sapi, namun hasil terbaik adalah menggunakan kulit kerbau karena tingkat kualitas yang lebih baik. “Untuk prosesnya, diawali dari lembaran, jika mau desain, direndam selama sehari semalam agar kulitnya bisa lumer atau kencang, dari situ prosesnya sudah dua hari,”ungkapnya.

Anggono menggerakkan wayang hasil buatannya. (Foto: Gulalives/Dwi Purnawan)
Anggono menggerakkan wayang hasil buatannya. (Foto: Gulalives/Dwi Purnawan)

Usai mendesain, langkah selanjutnya adalah proses pemahatan, dimana proses ini adalah membentuk fisik wayang menggunakan pahat khusus wayang. “Usai ditatah (dipahat-red), langkah pembuatan selanjutnya adalah disungging atau diwarnai, kemudian diberi apit dari tanduk kerbau,” jelas Anggono.

Lebih lanjut, menurut pria yang juga seorang dalang ini mengatakan, harga per wayang dipatok Rp 1 juta, namun jika konsumen menginginkan wayang lengkap, sebanyak 200 jenis wayang. “Namun ada juga yang pesan satuan, hingga pesan lengkap sekitar 200-an,”kata Anggono.

Anggono mengungkapkan, dirinya piawai membuat wayang bukan karena bersekolah di sekolah pewayangan dan pedalangan, namun murni karena ilmu turunan dari keluarga. “Sejak kelas tiga, sekitar tahun 50-an saya sudah pandai membuat wayang, selain itu saya juga menjadi dalang di daerah Wonogiri, dan saat ini diteruskan oleh dua anak laki-laki saya sebagai dalang, bedanya, anak saya kuliah di S1 Pedalangan di ISI Surakarta,”pungkasnya.

Sebagai informasi, sentra kerajinan wayang kulit di Manyaran adalah salah satu desa wisata di Kabupaten Wonogiri. Selain wayang, di desa tersebut juga dikembangkan kerajinan kelir untuk tempat memamerkan wayang. Di Kecamatan Manyaran juga terdapat museum wayang Indonesia. (DP)

LEAVE A REPLY