Gulalives.com, JAKARTA – Sobat wanita pasti sudah ngga asing dengan  pribahasa “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China”. Namun kini, setelah teknologi kian canggih, ilmu tak lagi berbatas jarak dan waktu. Dua hal ini sudah menjadi sebuah relativitas.

Untuk meraih ilmu, sobat wanita ngga perlu lagi benar-benar “duduk” di dalam kelas. Sekarang, cuma butuh laptop dan sambungan internet, siapa pun bisa kuliah.

Ya sobat wanita, dalam perkuliahan online, mahasiswa tidak dituntut rutin datang ke kampus. Sistem ini membuka kembali kesempatan mengenyam pendidikan tinggi bagi sobat wanita yang sibuk bekerja. Bahkan, pelayanan kuliah online sudah banyak diadopsi universitas di Eropa dan Amerika.

Walau begitu sobat wanita, karena terkesan “memudahkan”, beredar pemahaman salah tentang perkuliahan sistem online. Bahkan, miskonsepsi ini turut terjadi di kalangan para mahasiswa online baru, terutama mengenai dua hal berikut:

Waktu kuliah fleksibel

“Apa arti kuliah online?” tanya Deputy Director Binus Online Learning (BOL) Agus Putranto dalam acara orientasi mahasiswa baru BOL di Kampus Anggrek.

Beragam jawaban dilontarkan. Salah satu peserta menjawab, “Waktu kuliah jadi lebih fleksibel,” sementara lainnya mengatakan, “Tidak perlu datang ke kampus, cukup menggunakan teknologi internet.”

Jawaban mereka banyak terpaku pada kata fleksibel. Padahal, menurut Agus, kalau dipahami lebih lanjut, pembelajaran sistem online juga memiliki jadwal ketat yang sama seperti perkuliahan reguler.

Agus menjelaskan, pada sistem online, mahasiswa tetap memiliki jadwal “tatap muka” bersama dosen, biasanya mengunakan video conference. Selain itu, kelas diskusi dalam chat room pun rutin diadakan. Keaktifan mahasiswa di sini masuk dalam penilaian.

“Kalau cuma online lalu ditinggal dan tidak aktif berdiskusi, maka Anda dianggap tidak masuk. Nilai berkurang,” kata Agus.

Ia mengingatkan, mahasiswa harus disiplin mematuhi jadwal-jadwal penyerahan tugas, kelas virtual (video conference), diskusi kelompok, dan lain-lain. Tak hanya itu, sebanyak dua kali per semester, mahasiswa wajib melakukan perkuliahan langsung di kampus. Begitu pun dengan jadwal ujian.

“Patut dicatat, hal-hal seperti ini tidak fleksibel,” kata Agus. Jika tidak patuh, tambahnya, bisa jadi mahasiswa harus menambah semester atau lebih parah, terkena drop out.

LEAVE A REPLY