Sedih? Makan Lemak Deh Biar Ceria

Gulalives.com, JAKARTA – Selain enak di lidah, makanan berlemak ternyata dapat menenangkan jiwa dan menghilangkan rasa sedih.

“Makanan berlemak tampaknya dapat membuat kita mengurangi emosi sedih, bahkan meski kita tidak menyadari sedang makan lemak. Lemak yang masuk ke perut bisa menyebabkan perubahan emosi dan fisik,” kata Dr. Lukas Van Oudenhove. Hasil penelitian telah diterbitkan dalam Journal of Clinical Investigation.

Inilah sebabnya mengapa orang yang makan es krim pasca putus cinta dapat merasa lebih baik. Es krim yang mengandung lemak dapat menjadi penyembuh perasaan emosional dengan membuat orang sedih dan orang yang emosi menjadi tenang.

Apakah ada koneksi antara sinyal yang keluar dari mulut atau perut ke otak? “Para peneliti sebelumnya telah menangani pertanyaan-pertanyaan ini dengan berfokus pada bagaimana bau, rasa dan tampilan makanan mempengaruhi emosi,” kata Dr. Van Oudenhove, yang sedang menempuh pendidikan pasca-doktoral di University of Leuven di Belgia.

Peneliti melakukan rangsangan sensoris dengan menyuntikkan asam lemak langsung ke perut, tanpa diketahui oleh peserta penelitian zat apa yang disuntikkan pada mereka, apakah lemak atau cairan salin.

Untuk melakukan penelitian ini, peneliti merekrut 12 orang yang tidak gemuk. Relawan sehat kemudian akan menerima asam lemak atau larutan garam melalui tabung makan.

Dengan menggunakan functional MRI (fMRI), peneliti juga mengamati gelombang otak pada relawan seperti saat merasa sedih atau mendengarkan musik netral, serta diamati pula ekspresi wajahnya saat sedih dan saat mendengarkan musik.

“Untuk membuat relawan sedih, kita menggunakan musik dan film yang dapat membuat mereka mengernyit (sedih), yang membuat suasana hati turun 2,5 poin dari 10. Tetapi asam lemak dapat membantu mengurangi penurunan poin sebesar 1 poin,” jelas Dr. Van Oudenhove.

Menurut Dr. Van Oudenhove, di dalam otak sendiri peneliti menemukan kesedihan yang diinduksi dapat menyebabkan perubahan sekitar 3 sampai 4 persen.

“Cukup banyak, namun tingkat perubahan menyusut menjadi kurang dari 1 persen setelah subjek mendapat dosis asam lemak, setidaknya di sebagian besar wilayah otak yang dianalisis,” tutur Dr. Van Oudenhove.

Tidak jelas apakah bahan-bahan lainnya dalam makanan akan memiliki efek yang sama. Dr. Van Oudenhove mengatakan penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menentukan apakah temuan ini mungkin memiliki nilai dalam pengobatan obesitas, depresi atau gangguan makan, demikian dilansir HealthDay. (VW)

LEAVE A REPLY