Waduh, Jenis Gula Ini Bikin Berat Badan Cepat Naik

Gulalives.com, JAKARTA – Ternyata, makanan yang mengandung gula fruktosa dapat menyebabkan orang menambah berat badan lebih banyak ketimbang makanan yang mengandung gula glukosa.

Mengonsumsi glukosa mengirim sinyal ke otak bahwa kita sudah makan, dan dengan demikian meniadakan nafsu makan. Sebaliknya, makan fruktosa tidak berlaku mekanisme yang sama, kata para peneliti, dari Yale University School of Medicine.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan tinggi fruktosa sirup jagung dalam diet Barat – gula yang ditemukan dalam banyak makanan olahan dan minuman, termasuk jus dan soda – mungkin berkontribusi pada epidemi obesitas.

Tetapi para ahli lain berpendapat bahwa temuan teranyar ini harus ditafsirkan dengan hati-hati. Studi ini meneliti respon otak terhadap fruktosa murni dan glukosa murni. Namun, makanan olahan umumnya mengandung kombinasi fruktosa dan glukosa (sirup jagung dengan kadar fruktosa tinggi, misalnya, mengandung sekitar 55 persen fruktosa dan 45 persen glukosa).

Untuk alasan ini, tidak mungkin untuk mengatakan bagaimana hasil riset itu bisa diaplikasikan dengan tepat di dunia nyata, kata Terry Davidson, direktur Center for Behavioral Neuroscience di American University di Washington, DC. “Saya tidak selalu yakin bahwa Anda akan melihat efek yang sama, jika studi melibatkan sirup jagung tinggi fruktosa, bukannya fruktosa murni,” kata Davidson.

Penelitian dan editorial tersebut telah diterbitkan dalam Journal of American Medical Association.

Selain itu, studi ini hanya mengamati efek gula pada otak, dan tidak memeriksa apakah orang benar-benar makan lebih banyak setelah mengonsumsi fruktosa dibandingkan mereka setelah makan glukosa. Jadi penelitian lebih lanjut diperlukan untuk lebih memahami peran fruktosa dalam obesitas, kata Dr Jonathan Purnell, seorang profesor kedokteran di Oregon Health & Science University, menulis dalam sebuah editorial yang menyertai penelitian.

Penelitian melibatkan 20 orang dengan berat badan normal yang  otak mereka dipindai dengan resonansi fungsional pencitraan magnetik (fMRI) sebelum dan setelah mereka minum air manis, baik fruktosa atau glukosa.

Ketika orang mengonsumsi glukosa, para peneliti melihat penurunan aktivitas di hipotalamus, suatu wilayah otak yang mengatur nafsu makan dan penghargaan. Namun, mereka tidak melihat penurunan ini setelah konsumsi fruktosa. (VW)

LEAVE A REPLY