Gulalives.com, JAKARTA – Buat penyuka brokoli, ada kabar baik nih. Sayuran berwarna hijau ini dipercaya memiliki manfaat lebih efektif ketimbang antibiotik modern dalam melawan bakteri yang menyebabkan tukak lambung.  Selain itu, tes pada tikus menunjukkan bahwa senyawa yang terkandung dalam brokoli memberikan perlindungan yang mengagumkan terhadap kanker perut, kanker paling umum kedua di dunia.

Dalam studi yang dipimpin para peneliti dari Johns Hopkins University, yang berdasarkan serangkaian studi yang dilakukan dalam 10 tahun terakhir, ditemukan bahwa brokoli memiliki manfaat sebagai antikanker.

Pada 1992, farmakolog dari Johns Hopkins University, Profesor Paul Talalay dan koleganya menunjukkan bahwa sulforaphane, sebuah substansi yang diproduksi di dalam tubuh dari sebuah senyawa di brokoli, bisa memicu diproduksinya enzim tahap II. Enzim tahap dua ini dapat mendetoksifikasi kimia penyebab kanker dan merupakan senyawa antikanker paling poten yang selama ini dikenal manusia.

Sebuah studi berbeda menunjukkan bahwa konsumsi brokoli punya kaitan kuat dengan berkurangnya risiko kematian akibat penyakit jantung koroner yang umum terjadi pada wanita pascamenopause.

Dalam sebuah studi yang dilakukan bersama antara ilmuwan AS dan China, ditemukan bahwa zat kimia yang ada di brokoli, kol, bokcoy dan sayuran golongan krustacea lainnya bisa melindungi tubuh terhadap kanker paru-paru. Para peneliti melakukan studi terhadap lebih dari 18.000 pria.

Mereka mencatat 259 kasus kanker paru-paru selama periode studi tersebut. Para peneliti menemukan bahwa laki-laki yang di dalam tubuhnya terdeteksi mengandung ‘isothiocyanates’ memiliki risiko lebih rendah 36 persen mengidap kanker paru dalam periode 10 tahun.

Nah, isothiocyanates ini ditemukan pada brokoli serta sayuran golongan krustacea lainnya.

Meskipun zat kimia tersebut menurunkan risiko kanker paru hingga 36 persen pada studi tersebut, namun patut dicatat bahwa aktivitas merokok sendiri meningkatkan risiko kanker hingga 10 kali lipat.

Brokoli juga mengandung beta-karoten, lutein dan flavanolnya sangat tinggi, ketiga zat inilah yang dipercaya berpotensi melawan kanker. Kandungan kalsium dalam brokoli juga diyakini ahli lebih mudah diserap tubuh dibanding yang berasal dari susu.

Saran terbaik mengonsumsi bakteri adalah dengan cara dikukus.  Pasalnya, brokoli kukus mengandung karotenoid lebih banyak ketimbang yang mentah. Hal ini didapat dari riset terbaru yang dimuat di Journal of Agricultural and Food Chemistry. Kelebihan lainnya, kandungan vitamin C pada brokoli tak akan berkurang lebih dari 30 persen, meski telah dikukus. Begitu juga dengan zat kaempferol, sejenis flavonoid yang penting bagi perbaikan sel tubuh.

Yang perlu kita ingat juga adalah penyimpanan brokoli setelah dimasak. Seperti bayam, sayur ini tak boleh disimpan terlalu lama, mengingat kandungan nitratnya tinggi. Zat ini dapat berubah menjadi nitrit, yang jika berbaur dengan asam amino di tubuh akan memberikan nitrosamin.

Untuk memaksimalkan kandungan nutrisi pada brokoli, sebaiknya cuci dan potong brokoli tepat sebelum dikukus. Ini saran dari Ellie Krieger RD, penulis buku So Easy dan pemandu acara Healthy Appetite dari Food Network. Tujuannya agar brokoli tak lekas busuk setelah dicuci dan dipotong. (VW)

LEAVE A REPLY