Gulalives.com, JAKARTA – Fenomena Go-Jek telah membangunkan harapan dan spirit hidup banyak orang. Tak terkecuali, mantan pemaian Tim Nasional (Timnas) sepak bola Indonesia, Anang Ma’ruf.

Hari ini, Senin (7/9/2015), adalah hari keempat Anang bergabung ke perusahaan jasa transportasi ojek online tersebut. Pemain bola yang malang melintang di beberapa klub beken itu tercatat sebagai pengendara Go-Jek wilayah Surabaya. Anang resmi bergabung sejak Jumat (4/9/2015).

Seperti pengendara Go-Jek lainnya, Anang datang dengan segudang harapan. Telepon seluler Android, helm dan jaket hijau, yang diterimanya setelah resmi bergabung, adalah penambat harapan itu. Dari ketiga alat kerja tersebut dan sepeda motor miliknya, kini Anang menjalani hidup sebagai pengendara Go-Jek. Dia harus akrab dan belajar mencintai jalan raya. Sebab, di situ lah tempat gantungan hidupnya saat ini.

“Saya mau mencari pengalaman baru,” ujar Anang saat ditanya alasannya melamar ke Go-Jek. Pria kelahiran Surabaya, 28 Mei 1976 ini, tak ingin banyak bicara. “Ini kehidupan saya,” tegasnya kemudian.

Anang, memang bertanggungjawab terhadap hidup dan kehidupannya. Spirit menjalani semua dinamika di dalamnya terus menyala. Anang, memang bukan tipe manusia penyerah. Spirit hidup dalam dadanya selalu membara.

Pembekuan PSSI oleh pemerintah, yang disusul sanksi FIFA, tak hanya merontokkan periuk kehidupan pemain yang masih aktif. Fakta tersebut juga memporakporandakan roda kehidupan pemain yang hendak menekuni karier kepelatihan. Salah satunya Anang.

Setelah merumput di beberapa klub bagus, seperti Persebaya, Gresik United, dan Deltras Sidoarjo, Anang memutuskan menyeriusi karir sebagai pelatih. Keseriusan itu, dia awali di Persekama (Persatuan Sepak Bola Kabupaten Madiun). Di klub ini, Anang tercatat sebagai asisten pelatih. Di klub ini pula, Anang tak pernah berhenti merawat mimpinya sebagai pelatih. Kelak, dunia sepak bola nasional akan memperhitungkan kemoncerannya melatih para pemain.

Namun, mimpi hanya lah mimpi. Pembekuan PSSI oleh pemerintah, lalu sanksi pelarangan tim Indonesia bertanding di kompetisi internasional oleh FIFA, memupuskan semuanya. Kabar pahit itu disikapi oleh klub bola, dengan sikap yang tak kalah pahit. Banyak klub yang memutuskan tutup, termasuk Persekama, tempat Anang melabuhkan dedikasinya kepada sepak bola.

“Sejak PSSI dibekukan, tentunya tim kami bubar dan tanpa aktivitas. Makanya saya tekuni melatih SSB. Semoga sanksi kepada PSSI segera dicabut. Sehingga saya bisa melanjutkan karier kepelatihan saya,” ucap Anang, penuh harap.

Anang, tampaknya, lahir dan hidup untuk sepak bola. Berhenti sebagai asisten pelatih Persekama, tak menjauhkannya dari dunia yang sejak kecil dia tekuni. Kini, namanya tercatat sebagai pelatih di Sekolah Sepak Bola (SSB).

Sepak bola benar – benar menyatu dalam jiwa Anang. Dari sepak bola, dia mengerti arti menyerang dan bertahan. Bukan hanya di lapangan, spirit menyerang dan bertahan itu juga dia terapkan dalam keseharian. Bergabung dengan Go-Jek menunjukkan semangat Anang untuk menyerang rasa kecewa terhadap kondisi persepakbolaan Tanah Air, dengan cara positif dan produktif. Di Go-Jek, dia juga bertahan untuk tetap sabar dan ihlas mencari dan memenuhi nafkah keluarga.

Yah, sepak bola memang selalu melahirkan pribadi – pribadi tangguh dan pantang menyerah. (AA/SY)

LEAVE A REPLY