Anak Disleksia Tak Identik dengan Bodoh

Gulalives.com, JAKARTA – Perbedaan dalam susunan fisik otak bisa membantu menjelaskan mengapa anak-anak yang mengidap disleksia mengalami masalah dalam kemampuan bahasa tulis meskipun mampu menangani tugas-tugas intelektual lain.

Para peneliti dari Vanderbilt University, Johns Hopkins University dan Kennedy Krieger Institute menggunakan teknologi pemindaian otak MRI untuk meneliti disleksia.

Dalam studi itu, para ahli tersebut menemukan tanda-tanda disleksia dengan perbedaan struktural dalam rangkaian serat – bagian dari white matter di otak, yaitu salah satu dari dua komponen sistem saraf pusat – yang memungkinkan komunikasi antar sel di jaringan bahasa belahan kiri otak.

“Saat membaca, kita pada dasarnya mengatakan hal-hal dengan lantang di kepala,” kata Laurie Cutting dari Vanderbilt University.

“Jika integritas materi putih (white matter) di daerah ini menurun, bagian depan dan bagian belakang otak tidak dapat berbicara satu sama lain. Hal ini akan mempengaruhi kemampuan membaca, karena manusia membutuhkan keduanya untuk bertindak sebagai unit kohesif.”

Penelitian yang akan diterbitkan dalam jurnal Cortex tersebut diharapkan dapat menguak rahasia bagaimana disleksia terjadi.

Disangka Bodoh

Penyandang disleksia kerap disangka bodoh karena lambat dalam mencerna kalimat. Gejala paling umum pada penyandang disleksia adalah kesulitan membaca dan mengeja. Namun gejala ini bisa dikenali sebelum anak belajar membaca, agar bisa mendapatkan penanganan yang tepat.

Berbeda dengan gangguan belajar biasa, kesulitan mengeja pada penyandang disleksia bukan disebabkan oleh kurangnya kecerdasan. Gangguan ini merupakan kelainan genetik yang dialami individu dengan Intelegency Quotient (IQ) normal atau bahkan di atas rata-rata.

Menurut International Dyslexia Association, disleksia merupakan ketidakmampuan/gangguan dalam mempelajari bahasa yang berdampak pada kemampuan individu untuk membaca, menulis, mengeja dan mengucapkan kata-kata.

Gangguan disleksia merentang dari kadar ringan hingga berat, di mana diperkirakan 15-20 persen populasi memiliki gejala-gejala disleksia. Sejauh ini belum jelas apa sejatinya penyebab gangguan ini. Namun sejulah studi mengungkap bahwa penyandang disleksia perkembangan otaknya berbeda dengan orang yang tidak menyandang disleksia.

Berlawanan dengan kepercayaan umum, penyandang disleksia tidak membaca secara terbalik.

Umumnya gangguan ini sering terlambat diketahui, sehingga disleksia banyak memberi dampak pada masalah belajar di sekolah. Selain nilainya merosot, tak jarang penyandang disleksia mengalami tekanan psikologis karena tidak percaya diri atau bahkan menjadi korban bullying (kekerasan) dari teman-teman sekolahnya. (VW)

LEAVE A REPLY