Gulalives.com, JAKARTA – Bank Indonesia (BI) kembali menegaskan larangan transaksi gesek tunai, atau yang dikenal dengan sebutan gestun, melalui sebuah Nota Kesepahaman yang ditandatangi pada 12 Juni yang lalu oleh BI, penerbit kartu kredit, dan acquirer.

Padahal, sejak lama jasa pembayaran gestun dimanfaatkan oleh banyak orang untuk mendapatkan dana tunai dengan cepat. Pemilik kartu kredit seolah-olah membeli sesuatu di merchant namun bukan barang yang diperoleh melainkan uang tunai.

Selain praktik ini dapat merugikan nasabah, transaksi ini juga merugikan bank penerbit kartu kredit karena meningkatnya potensi kredit macet atau non performing loan.

Menanggapi kebijakan ini, Simon Costello, Co-Founder & Managing Director, HaloMoney.co.id, mengatakan bahwa tingginya praktek gestun di Indonesia menunjukkan masih rendahnya tingkat literasi keuangan di Indonesia.

Ini sejalan dengan Survei Literasi Keuangan yang dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 2013 yang menemukan bahwa lebih dari 75% masyarakat Indonesia masih belum paham betul mengenai berbagai produk dan jasa keuangan.

Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) memperkirakan dari total transaksi kartu kredit tiap bulannya yang sebesar Rp 22 triliun, sekitar 15% atau Rp 3,1 triliun, merupakan transaksi gestun.

“Kondisi ini bukti adanya kesalahan persepsi terhadap kartu kredit. Melalui comparison center kami yang menangani ratusan telepon tiap minggunya, kami menemukan masih banyak orang yang menganggap kartu kredit sebagai alat mendapatkan utang dan bukan sebagai alat pembayaran, yang merupakan fungsi utamanya,” kata Simon.

Apabila nasabah memang memerlukan uang tunai, kata Simon, maka sebetulnya mereka bisa memilih salah satu dari beberapa jenis produk pinjaman yang tersedia. “Yang terpenting adalah untuk membuat perencanaan yang tepat sebelum mengajukan pinjaman sehingga kamu tidak masuk ke dalam perangkap utang yang tidak berkesudahan,” kata dia.

Opsi Selain Gestun

Gestun digemari banyak orang karena bisa memperoleh uang tunai dengan cepat. Apabila tagihan langsung dibayar lunas oleh nasabah, memang tidak ada beban bunga yang harus dibayar, kecuali biaya administrasi yang diminta oleh pihak merchant yang biasanya berkisar 2% sampai 3% dari total dana yang ditarik.

Namun demikian, karena mayoritas nasabah yang melakukan gestun memerlukan tunai untuk kebutuhan mendesak maka biasanya mereka tidak memperhitungkan kemampuan keuangan ketika akhirnya tagihan muncul. Sehingga pada akhirnya transaksi gestun tersebut tidak bisa dibayar lunas, sehingga konsumen terbebani bunga sekitar 2,65% sampai 2,85% per bulan.

Jadi, daripada akhirnya tagihan membengkak, lebih baik nasabah mengajukan produk pinjaman yang lebih ramah untuk kantong dan dengan skema bunga yang lebih jelas.

LEAVE A REPLY